Saturday, November 12, 2011

KRIYA RUMPUN-RUMPUN MELAYU



KRIYA RUMPUN-RUMPUN MELAYU


1. Pendahuluan

Kriya sebagai cabang seni rupa yang telah lama dikenal oleh rumpun-rumpun bangsa melayu, merupakan salah satu produk budaya warisan generasi lampau yang patut dibanggakan. Wilayah Nusantara yang begitu luas yang terletak di persimpangan jalan antara empat benua, memaksa kriya selalu berhadapan dengan pengaruh dan saingan budaya asing yang lebih maju. Sebagai khas budaya Melayu, kriya memiliki sifat terbuka terhadap pengaruh-pengaruh budaya yang datang dari luar. Untuk menyarikan maksudnya arus gelombang kebudayaan asing yang dipadu dengan budaya lokal, ia mampu berkembang dan menemukan bentuk khasnya untuk menerobos nuansa zaman. Gejala-gejala ini sejalan dengan teori Splenger, tentang Selective Borrowing of cultural traits, bahwa suatu bangsa jika meminjam unsur-unsur kebudayaan lain akan dirombak agar sesuai dengan kebudayaan pribumi.[1]

Yang dimaksud dengan rumpun-rumpun bangsa Melayu di sini ialah bangsa Melayu yang mendiami pulau Sumatera (Minangkabau, Aceh, Riau, Palembang) dan Semenanjung (Johor, Trengganu, dan Kelantan). Jika secara geohistoris tempat dan sejarahnya berbeda maka sifat-sifat budayanya pun berbeda, oleh karena itu masing-masing daerah akan menghadirkan produk kriya yang berbeda pula. Jika diidentifikasi kekayaan jenis media kriya pada masing-masing daerah tidak sama, ada satu daerah misalnya Sumatera Barat mempunyai kesalahan seni kriya kayu, logam, tektil, kulit, keramik dan anyaman, namun ada daerah lain yang tak selengkap itu.

Jika menengok ke masa lampau produk kriya tradisional senantiasa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di samping sebagai wahana perlengkapan upacara adat. Produk kriya logam yang berupa alat kerja dan alat upacara seperti kapak, bejana, dan genderang perunggu telah dikenal lama. Jauh sebelum bangsa Indonesia membuat patung-patung perunggu pada zaman Hindhu dan alat-alat pusaka kerajaan di zaman Islam.[2]  Sejak zaman prasejarah hingga kini produk kriya tekstil tenun dengan corak disain yang dibuat dengan tenun ikat lungsi hamper menyebar di seluruh kepulauan Nusantara, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.[3] Di bidang kriya kayu tercemin pada berbagai produknya seperti misalnya topeng digunakan sebagai serana penting untuk seni pertunjukan. Sedangkan produk ukiran diperlukan untuk memenuhi kebutuhan perabotan, baik sebagai elemen-elemen arsitektur dan interior istana maupun tempat ibadah. Hal itu menunjukan betapa para empu dan pakar kriya menyayikan ketrampilan dengan ketelitian yang tinggi, namun juga memberi kesan magis dengan  corak dan gaya aristokrasi, disertai symbol-simbol kebesaran sekaligus mengandung makna falsafah hidup.

Di masa lampau memang tidak pernah ada pembatasan antara seni kriya dan seni murni secara jelas, karena pada dasarnya semua seni berguna, dekoratif, sifatnya, dan memerlukan ketrampilan tangan (craftsmanship) yang tinggi. Baru setelah Zaman Renaisans di Eropah Barat dengan jurus humanisasmenya orang lebih menentukan ekspresi dalam seni murni, sedangkan yang satu cenderung lebih menentukan kekriyaannya, sehingga nampaklah batas-batas antar keduanya.[4]

II. Latar Belakang Sejarah
Pada dasarnya produk kriya khususnya dan demikian pula produk seni pada umumnya tidak dapat dilepaskan dengan konteks waktu dan peristiwa. Itulah sebabnya, produk kriya lahir bukan karena kebetulan, akan tetapi merupakan akumulasi dari proses yang panjang yang melibatkan factor internal dan eksternal kriyawan sebagai pembuatnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh banyak hal. Oleh karena itulah , produk kriya pada hakikatnya merupakan paroduk social. Sebagai bentuk produk social, maka karya itu lahir karena memiliki alas an yang masuk akal dengan kehidupan dan zaman.[5] Keberadaan karya-karya itu kelak dapat dipandang sebagai fakta mental (mentifact), fakta social (sosifact), dan benda-benda (artifact).
           
            Dalam Bausastra Jawa – Indonesia istilah kriya, berarti: pekerjaan atau kerajinan.[6]
Dalam The New Encyclopedia Britanica, Occupations of making by hand usable product grace with visual appeal.[7] Dan dalam Encyclopedia of World Art, the word handicraffs refers to useful or decorative objects made by hand or tools by a workman who has direct control over the product during all stages of production.[8] Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Seni Kariya adalah sesuatu yang dibuat dengan tangan, pada umumnya dibuat dengan dekoratif yang secara visual sangat indah, dan seringkali merupakan barang guna.

            Bertolak dari batasan pengertian di atas telah tercermin bahwa betapa produk kriya dari zaman prasejarah telah menunjukkan criteria kriya yang mantap, misalnya: candrasa, tenunan, periuk, dan topeng. Adapun bentuk, ornamentasi, dan gaya produk-produk semacam itu pada umumnya berlatar belakangkan pada kepercayaan animistic dan dinamistik. Tradisi kriya lama yang bersumber pada kebudayaan prasejarah secara berkesinambungan berperan dalam pembentukan tradisi seni kriya pada masa berikutnya.

            Pada abad ke 4 Masehi, hubungan dagang antara bangsa India dengan bansa Cina yang telah berlangsung mulai abad ke 1 Masehi telah memperkenalkan adanya kerajaan Suwarnadwipa yang letaknya di tanah Semenanjung. Penamaan Suwarnadwipa dianggap sebagai sebuah pulau yang Bandar-bandarnya berada di sepanjang pantai barat dan timur terdapat perdagangan emas.[9] Karena penduduk tanah semenanjung meluas hingga ke pantai timur pulau Sumatera, maka pulau Sumatera pun dianggap sebagai bagian dari Suwarnadwipa. Catatan sejarah yang samara-samar itu pun mengenalkan bangsa Melayu[10] di pulau Sumatera dengan pusatnya di muara sungai Batanghari, yang pada abad ke 13 kerjaan Melayu itu disebut dengan nama Darmasyraya.[11]

            Pada abad ke 7, kerajaan Sriwijaya memindahkan pusatnya dari Kelantan di pantai timur Semenanjung ke Muara Takus di dataran pertemuan sungai Kampar.
Kanan dan Kampar Kiri.[12] Mungkin karena sungai Kampar yang merupakan lalulintas perdagangan lada dari pedalaman Sumatera menjadi ramai dan mengganggu, maka pada tahun 683 kerajaan Sriwijaya dipindah ke daerah Selatan yang merupakan pertemuan antara sungai Komering, Ogen, dan Musi. 

            Kesenian rumpun-rumpun Melayu yang masih sederhana harus berhadapan dengan asing yang sudah matang, yaitu kebudayaan India. Besarnya pengaruh luar nampak masuk melalui berbagai perwujudan karya seni, baik dalam bentuk bangunan candi, patung, maupun ornamentasi yang diterapkan. Ternyata gambaran ini mengilhami penciptaan karya kriya pada waktu itu, seperti misalnya pembuatan alat-alat upacara, busana, senjata (pedang, tombak, rencong, dan keris), topeng, dan tenunan.
           
Masuknya kain tenun ikat pakan dan benang sutera dalam perdagangan sekitar abad ke 14 dan ke 15 merupakan barang-barang yang impor dibawa pedagang-pedagang Islam India dan Arab ke Sumatera dan Jawa.[13] Perkembangan kebudayaan seni rupa Islam di Nusantara pada umumnya terpusat di istana para raja. Ada dua jenis bangunan utama dari zaman Islam yang paling menonjol ialah bangunan istana dan masjid.[14] Di samping itu istana juga merupakan pusat kerajaan tempat raja memerintah dan sekaligus sebagai tempat tinggal raja. Maka berdasarkan pandangan hidup kosmis-magis, istana menjadi pusat kekuatan gaib yang sangat berpengaruh pada seluruh kehidupan masyarakat.[15] Kedudukan raja sebagai penguasa tertinggi sederajat dengan dewa masih berlaku, berarti konsep mengenai ratu gung binathara masih berlanjut terus, raja dipercaya oleh masyarakat sebagai titisan dewa, sabda raja berarti perintah raja. Oleh kartena itu, semua karya seni yang lahir di istana adalah dianggap ciptaan sang raja. Pada dasarnya lahirnya produk-produk kriyapun tak lepas dari konsep ini. Hal ini terjadi di Kesultanan Johor, Istana Tengku Long Besut Trengganu, dan Istano Basa Pagaruyung, dan Karya-karya kriya seperti elemen arsitektur (dinding,jendela,pintu, dan sketsel), pusaka (rencong, tombak, keris, dan paying), tekstil (tenun songket, border, dan celup ikat) merupakan produk istana yang kebanyakan dapat mencapai puncak prestasi seni yang bernilai tinggi (adiluhung).

Hadirnya pengaruh Barat ditandai oleh kedatangan bangsa Portugis pada abad ke 16 dan kemudian disusul oleh orang Belanda pada awal abad ke 17. Semula bangsa Belanda dating di Indonesia hanya untuk berdagang, namun akhirnya menjadi penguasa dan menjajah. Sebelum kekuasaan VOC runtuh, yang kemudian diganti oleh kekuasaan pemerintah colonial Belanda pada tahun 1800, pembangunan kota Batavia dilaksanakan dengan mengambil pola dari negeri Belanda yang diperkuat dengan perbentengan. Segala kesibukan yang berhubungan dengan perdagangan dan kehidupan sehari-hari berpusat di benteng seperti ini.

Bentuk bangunan rumah tinggal para pejabat pemerintah colonial Hindia Belanda memiliki cirri-ciri dan bentuk perpaduan antara seni bangun Belanda dan rumah tradisional, yang disebut Indo Europeesche Bouwkunst.[16] Di samping itu pada prinsipnya pemerintah colonial mengharuskan para penguasanya bergaya hidup mewah, dengan menampilkan bangunan dan perabotan yang mewah, dengan cirri-ciri dan bentuk yang berbeda dengan rumah rakyat jajahan. Hal ini dimaksudkan dalam upaya untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesarannya.[17] Jadi dengan demikian produk-produk kriya yang muncul pada masa itu berupa elemen interior (perabot,lampu, karpet, dan korden) dan busana (border, songket, dan perhiasan). Peranan pemerintah kolonial Belanda sebagai agen budaya umumnya dan bidang kriya khususnya cukup menonjol, bagi penduduk pribumi yang menjadi pegawai pemerintah colonial Belanda diharuskan menggunakan busana tradisional, sebagai pakaian sipil harian. Penyebab dan pemasyarakatannya tidak terbatas pada Pegawai tinggi saja, namun berlaku pula hingga pegawai rendah setingkat mantra guru, mantra candu, dan mantra garam.[18]

Pengenalan dunia seni rupa Barat, dimulai setelah memasuki zaman kemerdekaan Indonesia, yang ditandai dengan cara membuka pendidikan akademi seni rupa secara formal, baik Departemen Seni Rupa ITB maupun ASRI Yogyakarta.

Pada masa itu merupakan periode akhir dari zaman penjajahan colonial Belanda, namun upaya gigih untuk menuntut kemajuan dalam estetika dan kepribadian, semata-mata mencari bentuk dan kualitas, tetapi juga bermaksud untuk menunjang harkat dan martabat bangsa.[19] Dengan berdirinya dua lembaga pendidikan tinggi seni rupa sesuai zaman kemerdekaan, yang kemudian diikuti lahirnya IKIP Negeri, STSI, IKJ, dan perguruan tingi lainnya, telah membuat cakrawala baru bagi perkembangan seni rupa modern Indonesia dan melahirkan paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan zaman.

PARADIGMA ESTETIKA [20] 
     
     
SENI MURNI
KRIYA
DESAIN





  • Ekspresi pribadi
  • Inovasi idiom visual
  • Memperkaya pengalaman estetika
  • Subyektivitas


  • Craftsmanship
  • Workmanship
  • Keunikan
  • Beuty of intimacy (keakraban dg. bahan)
  • Proglem solving
  • Fungsi* Produksi
  • Marketing
  • Sain & Teknologi
  • Obyektivitas


            Melihat paradigma di atas jelas bahwa kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang eksistensinya telah mendapat pengakuan yang kuat dan posisinya berada di tengah-tengah antara seni murni dan desain. Hal ini berarti bahwa seni kriya modern bias
Saja berwujud produk kriya yang mengabdi kepada kegunaan sehari-hari(parallel dengan desain), sebagai contoh: perabot rumah tangga, busana,dan cinderamata. Akan tetapi dapat juga seni kriya berwujud produk-produk kriya yang merupakan wahana ekspresi pribadi  sang kriyawan/seniman (parallel dengan seni murni), misalnya dapat berupa: panel kayu, panel logam, lukisan batik, dan keramik hias.

Dalam kehidupan sehari-hari ada berbagai jenis bidang kriya yang mengahsilkan bermacam-macam bentuk dan gayanya, serta dapat diklasifikasi ke dalam empat kategori, yaitu:

  1. Produk kriya tradisional yang berkonteks budaya
  2. Produk kriya yang berdasarkan konteks agama dan kepercayaan
  3. Produk kriya yang merupakan kerajinan rakyat
  4. Produk kriya yang dibuat oleh seniman dan disainer.[21]

Di bidang kriya kayu dapat ditemukan berbagai macam produknya, berupa topeng, wayang golek, dan elemen-elemen arsitektur (dinding, jendela, pintu, dan sketsel berukir), serta produk berupa elemen-elemen interior ( meja, kursi, lampu sudut, dan hiasan dinding).Pada umumnya, untuk sector kriya logam dapat diamati hasilnya, berupa perhiasan (kalung, subang, gelang, dan cincin), produk cinderamata (gantungan kunci, mascot, dan perhiasan). Pada bidang kriya tekstil menghasilkan berbagai jenis produk yang berupa batik, tenun (lurik, tenun ikat, dan songket), dan celup ikat (jumputan, tritik, dan sasirangan). Dari aspek penerapannya, produk kriya tekstil dapat digunakan untuk kepentingan busana (baju, kain panjang, tas, dan sandal), elemen interior (sprei, korden, dan karpet), dan produk cinderamata ( kipas, dompet, dan kartu ucapan). Adapun untuk bidang kriya kulit  dapat menghasilkan berbagai macam produk kriya yang berwujud wayang, elemen interior ( kap lampu, hiasan dindang, dan sketsel), busana ( jaket, sepatu, tas, dan kostum tari), dan produk cinderamata ( kartu nama, mascot, dan kipas). Sedangkan di bidang keramik pada umumnya menghasilkan berbagai jenis produk kriya yang berupa elemen interior ( asbak, vas, standar lampu, dan hiasan dinding ) dan produk cinderamata (gantungan kunci, mascot, dan keramik hias).

Dalam perkembangan kriya dewasa ini, bila diamati ada sesuatu yang menarik. Dengan maraknya pasar global dan perkembangan dunia pariwisata dapat dikatakan membawa berkah. Berarti para kriyawan dan pengusaha mendapat peluang dan kesempatan baik, menjadikan produk kriya sebagai asset perdagangan yang luas, baik sebagai komoditas perdagangan global maupun sebagai wahana penunjang pariwisata. Hal ini memberikan motivasi baru bagi kriyawan untuk secara serius menggeluti profesinya dalam upaya menciptakan produk-produk baru yang dapat memenuhi selera dan kehendak pasar.

III. Gejala –gejala Pengembangan Kriya

            Jika ditinjau kembali ke masa lampau, diketahui bahw akriya merupakan seni tradisional yang telah mengakar panjang, dalam hal kebudayaan Nusantara. Memang, dulu produk kriya dibuat untuk memenuhi kepentingan upacara dan kegunaan praktis sehari-hari. Akan tetapi pada akhir abad ke 20, karena adanya perubahan masyarakat dan kebudayaan yang diakibatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka muncul gejala- gejala perubahan dan pengembangan di dunia kriya.

            Tumbuhnya kesadaran atas kondisi, situasi, dan tuntutan zaman, kriya yang semula penciptaannya cenderung berorientasi pada barang kebutuhan sehari- hari, maka kini motivasi kreatif penciptaan kriya pun bergeser. Jilka di masa lampau produk kriya dibuat untuk memenuhi kebutuhan  sehari –hari, namun kini kriya diproduksi untuk memenuhi asset perdagangan yang luas sesuai dengan kebutuhan budaya masa kini.

            Bila dilacak, gejala-gejala perkembangan kriya dewasa ini dapat ditelusuri arahnya, yanitu perkembangan yang arahnya vertical dan perkembangan yang arahnya horizontal. Yang dimaksud perkembangan kriya secara vertical, terlihat adanya peningkatan dari berbagai aspek, yaitu: ide penciptaan, kualitas teknik, dan penampilan produk kriya. Adapun perkembangan arah horizontal, berarti di samping semakin meningkatnya populasi kriyawan, namun juga semakin meluasnya kawasan industri kriya[22]      . 

            Arah pengembangan kriya secara vertical dapat diamati di lapangan, yakni menitik beratkan pada peningkatan kemampuan kreatifitas, ketangkasan teknik pengerjaannya, dan peningkatan kemampuan penampilannya. Ujud pengembangan kriya yang mengabdi pada barang guna masa kini, adalah berangkat dari pemikiran baru, karena dihadapkan pada kondisi dan tuntutan zaman. Sudah barang tentu hal ini berkaitan dengan ekonomi pasar, baik yang bergerak di bidang industri pariwisata maupun di bidang perdagangan global.

            Sesungguhnya upaya masyarakat untuk menangani sector kriya telah berlangsung lama, dari masa ke masa hingga sekarang ini. Hanya saja penangganannya bervariasi sesuai dengan situasi, kondisi, dan kebijaksanaan yang ditempuh olah masing-masing zaman. Kalau semula sector kriya tumbuh berdasarkan atas dorongan kebutuhan praktis dan social budaya, maka sejak abadke 20, aspek ekonomi menjadi motivasi penting. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya sumbangan sector pertanian untuk diandalkan sebagai sumber penghidupan yang memadai. Untuk itu sector kriya perlu diperbaiki dan diperkuat keberadaannya, agar dapat meningkatkan kuantitas produksinya, di samping tersedianya pasar yang mampu menampungnya.[23]

Pada mulanya wujud ekspor di tingkat nasional hanya bertumpu pada ekspor bahan –bahan mentah alamiah sebagai bahan baku yang dibutuhkan oleh berbagai industri pengolahan di luar negeri, terutama minyak dan gas bumi. Turunnya harga minyak dan adanya resi ekonomi dunia pada decade 80-an, mendorong pemerintah untuk merangsang ekspor non-migas, dengan cara memberi kesempatan kepada semua sector industri, baik industri yang berskala besar, menengah, maupun kecil. Salah satu sector industri kecil yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan adalah bidang kriya, mengingat potensi-potensi penunjangnyapun cukup besar. Potensi-potensi itu berskala nasional, yaitu berupa bahan baku, sumber daya manusia, dan potensi yang bersifat kebudayaan.[24]

Jika diamati, Indonesia memiliki kondisi geografis yang membentang luas, sangat berpotensi untuk berbagai jenis bahan baku yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri kriya, baik yang bersumber dari flora, fauna, maupun yang bersumber dari tanah, batu-batuan, dan mineral. Berkenan dengan potensi sumber daya manusia, Indonesia kaya akan tenaga kriyawan yang berasal dari kelompok tenaga budaya tradisional. Mereka yang tersebar di seluruh tanah air dapat dikordinasi dan dibina untuk pengembangan industri kriya, meskipun sebagian besar mereka rata-rata berpendidikan rendah. Memang, secara bertahap para kriyawan memerlukan pembinaan yang sifatnya berkesinambungan, sehingga secara bertahap pila mereka akan memiliki pengalaman dan kemampuan untuk membaca kehendak pasar.

Dengan adanya kelompok lain, yang berupa kelompok tenaga budaya terdidik baik yang bersifat pendidikan tinggi maupun menengaah, khususnya tyenaga bidang seni rupa yang berlatar belakang pendidikan seni rupa ITB, ISI, IKIP,STSI, SMSR,dan SMIK< berpotensi untuk berperan serta dalam upaya koordinasi, pembinaan, danpengembangan industri kriya, baik saat ini maupun di masa mendatang. Demi lancarnya koordinasi, pembinaan, dan pengembangan industri kriya, maka diperlukan kebijakan dari arah pendidikan, agar dunia pendidikan harus segera mendekatkan diri dengan dunia industri.

Faktor yang mendorong perkembangan kriya dewasa ini disebabkan adanya dukungan pemikiran baru untuk menghadapi tantangan situasi, kondisi, dan tuntutan zaman, khususnya di bidang industri pariwisata dan perdagangan yang luas. Pada dasarnya salah satu unsure yang berperan dalam produk industri kriya yang mengabdi pada kegunaan adalah desain. Desain ialah langkah awal atau kegiatan praindustri berupa rancangan produk industri, yang merupakan hasil manifestasi dari konsep pembuatan barang-barang guna melalui pendekatan ilmu, teknologi, dan seni. Dalam industri kriya peranan desain sangat menentukan. Seorang dasainer dituntut untuk mengambil keputusan dalam pemecahan masalah tentang berbagai factor yang berpengaruh dalam menerapkan prinsip-prinsip desain sesuai dengan rumusan desain.[25] Jika dalam kriya tradisional tidak dikenal pembedaan desainer dan kriyawan, hal ini karena kedudukan kriyawan dipandang masih mampu menangani permasalahan dalam produksi yang masih sederhana dan belum dituntut oleh persyaratan standar pasar yang berlaku. Maka dengan adanya perubahan kedudukan kriya tradisional menjadi industri kriya, sudah tentu demi efisiensi dan produktivitas serta pencapaian kualitas produk yang seoptimal mungkin. Oleh karena itu, maka desain sangat penting dan menentukan dalam pelaksanaan tata nilai dan system kerja industri kriya. Berfungsinya kriya sebagai komoditas perdagangan yangluas, menuntut pengembangan kualitas dan kuantitas produksi sesuai dengan persyaratan standar pasar ekspor, sebagaimana pentingnya ujud nyata dari implementasi yang tercermin dalam kondisi kualitas, kuantitas produksi, serta system produksinya.


DAFTAR PUSTAKA

Agus Sachari,”Proses Transformasi Budaya dan Pengaruhnya Terhadap Pengeseran Nilai-nilai Estetik Desain di Indonesia, Periode 1901-1990an”, Tesis, Fakultas Pascasarjana Insstitut Teknologi Bandung, Bandung, 1994.

Ahdijat Joedawinata, “Sejarah dan Pendidikan Kriya di Indonesia”, Makalah Seminar Kriya 1990 Institut Seni Indonesia Yogyakarta, di Hotel Ambarukma Yogyakarta, tanggal 20 Mei 1990, Yogyakarta, 1990,

A.A. Navis,” Adat Kebudayaan Minangkabau”, Diktat, Diedarkan Khusus untuk Dana Rehabilitasi Ruang Pendidik INS Kayutanam, Padang, 1980.

Djoko Sukiman,” Seni Bangun Gaya India: Penelitian Pelestarian dan Pemanfaatannya”, Jawa, Majapahit Ilmiah Kebudayaan, Volume II, No.6, Yogyakarta, 1997.

Encyclopedia of World Art, McGraw Hill Book Company Inc. Vol>VII, Greek Art-Indian Art, New York et al, 1963.

Heskett, John, Desain Industri, Penerbit Rajawali, Jakarta, 1986.

Imam Buchori Z,” Aspek Desain Dalam Produk Kriya “, Makalah, Seminar Kriya 1990, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, di Hotel Ambarukma Yogyakarta, tanggal 28-29 Mei 1990, Yogyakarta,1990.

Jim Supangkat, “Dua Seni Rupa Indonesia”, dalam Kusuma Atmadja,Modem Indonesia Art, Three Generation of Tradition and Change 1945-1990, Panitia Pameran KIAS (1990-1991), Jakarta dan New York, 1990.

Kempers, Bernet, A.J., Ancient Indonesian Art, C.P.J.Van der Peet, MCMLIX, Cambridge, Massachusetts, 1959.

Kusnadi, “Arti Luas Kepribadian Seni Lukis Modern Indonesia”, dalam Mochtar Kusuma Atmadja, Modem Indonesia Art, Three Generation of Tradition and Change 1945-1990, Panitia Pameran KIAS (1990-1991), Jakarta dan New York, 1990.

M.M. Sukarto K.Atmojo<” Arti dan Fungsi Pohon Hayat Dalam Masyarakat Jawa Kuno”, Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Panunggalan, Lembaga Javanologi, Yogyakarta, tt.

Naylor, Gillian, The Art and Crafts Movement, a Study of its Sources, Ideals and Influence on Design Theory, Studio Vista Publishers Blue Star House, Highgate Hill, London, 1971.

Redfield, Robert, Masyarakat Petani dan Kebudayaan, Terjemahan: Daniel Dhokdie, CV Radjawali, Jakarta, 1985.

Retno Winahyu dan Soedarso Sp, “ Tantangan Global Pada Perkembangan Seni Kriya”, Seni, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, VI/01, Mei, Yogyakarta, 1998.

Sartono Kartodirdjo, Perkembangan Peradaban Priyayi, Gadjah Mada Press, Yogyakarta, 1987.

Soedarso, Sp., Tinjauan Seni, Sebuah Pengantar untuk Apresiasi, Saku Dayar Sana, Yogyakarta, 19990.

________________, “ Karya Keramik Noor Sudiyati”, Katalog, Pameran Ekspresi Tanah Liat Noor Sudiyati A., di Bentara Budaya, 12-18 November 1997, Yogyakarta, 1997.

________________. “ Seni Rupa Indonesia Dalam Masa Prasejarah”, dalam Muchtar Kusuma Atmadja, Perjalanan Seni Rupa Indonesia, Dari zaman Prasejarah Hingga Masa kini, Penerbit Panitia Pameran KIAS 1990-1991, “Seni Budaya”, Bandung, 1990.

Sp. Gustami, “ Filosofi Seni Kriya Tradisional Indonesia”, Seni jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, II/01, Januari, Yogyakarta, 1992.

Suwaji Bastomi, Seni Kriya Apresiasi dan Perkembangannya, Penerbit IKIP Semarang Press, Semarang, 1986.

Suwati Kartiwa, Kain Songket Indonesia, Penerbit Djambatan, Cetakan kedua, Jakarta, 1989.

S. Prawiroatmodjo, Bausastra Jawa-Indonesia, Penerbit Gunung Agung, Jilid I, Edisi kedua, Cetakan ketiga, Jakarta, 1985.

The New Encyclopedia Britanica, Encyclopedia Britanica Inc., Chicago et al., 1988.

Tim Perumus Hasil Seminar Kriya 1990 Institut Seni Indonesia Yogyakarta, di Hotal Ambarukma Yogyakarta, tanggal 30 Mei 1990, Yogyakarta, 1990.

Tri Sura Suhardi,” Pidato Pembukaan Seminar Kriya 1990 Insstitut Seni Indonesia Yogyakarta”, di Hotel Ambarukma Yogyakarta, tanggal 20 Mei 1990,
Yogyakarta, 1990.
 
Umar Kayam, Seni, Tradisi, Masyarakat, PT Sinar Harapan, Jakarta, 1981.

Wagner, Frits A. The Art of Indonesia, Art of The Island Group, Crown Publishers, Inc,                 New York, 1959.

Wall, Van  de, Indishe Land Huizen en Hun Geschiedenis Kone, Bat.Gen. Van Kunsten En Wetwnschappen, Batavia, 1932.

Wiyoso Yodoseputra, “Seni Rupa Klasik”, Dalam Muchtar Kusuma Atmadja, Perjalanan Seni rupa Indonesia, Dari Zaman Prasejarah Hingga Masa Kini, Penerbit Panitia Pameran KIAS 1990-1991, Bandung “Seni Budaya”, 1990.

Wolff, Jenet, The Social Production of Art, St. Martin’s Press, London, 1981.






[1] James Dananjaya 1988. Antropologi Psikologi: Teori, Metode, dan Sejarah Perkembangan. Jakarta: Rajawali Press,p.9-10.  
[2] Wiyoso Yodosaputra, Sejarah Seni Rupa Islam, Penerbit Djambatan, Cetakan pertama, Jakarta 1989,p.106
[3] Suwati Kartiwa, Kain Songket Indonesia, Penerbit Djambatan, Cetakan Kedua, Jakarta 1989, p2.
[4] Suwaji Batomi, Seni Kriya Apresiasi dan Perkembangannya, Penerbit IKIP Semarang Press, Semarang, 1986, p.85 – p.87.
[5] Janet Wolff, The Social Production of Art, St. Martin’s Press, 1981, p.12
[6] S.Prawiroatmodjo, Bausastra Jawa-Indonesia, Penerbit Gunung Agung, Jilid I, Edisi kedua, Cetakan ketiga, Jakarta, 1985, p.270.
[7] The New Encyclopedia Britanica, Encyclopedia Britanica Inc,  Vol.3, Chicago, et al, p.705
[8] Encyclopedia of World Art, Mc Graw Hill Book Company Inc, Vol.VII, Greek Art-Indian Art, New York et al, 1963,p.269
[9] Suwarnadwipa ialah bahasa Sansekerta, yang artinya Pulau emas. Nama Suwarnadwipa ditulis dalam karya syair Walmiki seorang pujangga India, pada abad ke 1 Masehi. 
[10] Melayu, berasal dari bahasa Tamil yang berarti orang gunung.
[11] A.A.Navis, “Adat Kebudayaan Minangkabau”, Diedarkan khusus untuk Dana Rehabilitasi Ruang Pendidik INS kayutanam, Padang, 1980,p.5
[12] Pemilihan likasi Muara Takus, dipengaruhi oleh kepercayaan nenek moyang mereka yang berasal dari India. Tempat itu merupakan jalan lintas rombongan gajah dari pegunungan Suliki ke dataran rendah. Pada tempat bersantai-santai di dataran itulah oleh para bhairawa Budha didirikan candi stupa untuk peribadahan.
[13] Wanda Warning dan Gaworski 1978, The Workd of Indonesian Textiles. Kondasha Internasional ltd, Tokyo, New York, San Fransisco
[14] Wiyoso Yudoseputra ,”Seni Rupa Klasik”, dalam Mochtar Kusuma Atmadja,, Perjalanan Seni Rupa Indonesia, Dari Zaman Prasejarah Hingga Masa Kini, penerbit Pameran KIAS 199001991, Seni Budaya Bandung, 1990,p.43
[15] A.J Bernet Kempers, Ancient Indonesian Art, C.P.J. Van der Peet, MCMLIX, Cambridge,Masschuestts, 1959,p.213
[16] Van de Walll, V.I,Indische Land Huizen en Hun Geschiedenis Kone, Bat. Gen. Van Kunsten en Wetenschappen, Batavia, 1932,p.2.
[17] Djoko Sukiman, “Seni Bangun Gaya India: Penelitian Pelestarian dan Pemanfaatannya”, Jawa, Majalah Ilmiah Kebudayaan, Volume II, Lembaga Studi Jawa, Yogyakarta, 1997,p.190.
[18] Sartono Kartodirdjo, Perkembangan Peradaban Priyayi, Gadjah Mada Press, Yogyakarta, 1987,p.49
[19] Kusnadi,” Art Luas Kepribadian Seni Lukis Modern Indonesia”, dalam Mochtar Kusuma Atmadja. Mpdern Indonesian Art, Three Generation of Tradition and Change 1945-1990, Pemeran KIAS (1990-1991). Jakarta dan New York, 1990,p.199.
[20] Tim Perumus Hasil Seminar Kriya 1990 Institut Seni Indonesia Yogyakarta, di Hotel Ambarukma Yogyakarta, tanggal 30 Mei 1990
[21] Imam Buchori Z, “ Aspek Desain Dalam Produk Kriya”, Makalah Seminar Kriya 1990, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Hotel Ambarukma, 28-29 Mei, 1990,p.9.
[22] Soedarso Sp, Tinjauan Seni, Sebuah pengantar untuk Apresiasi, Suku Dayar Sana, Yogyakarta, 1990, p.51
[23] Umar Kayam, Seni, Tardisi, Masyarakat, PT Sinar Harapan, Jakarta, 1981,p.43 – p.48.
[24] Ahdijat Joedawinata,” Sejarah dan Pendidikan Kriya Indonesia”, Makalah Seminar Kriya Institut Seni Indonesia Yogyakarta, di Hotel ambarukma, tanggal 29 Mei 1990,p.11.
[25] John Heskett, Op.cit,p.6.

No comments:

Post a Comment